TIMIKA, 5 September 2026 — AirNav Indonesia terus mengeksplorasi karakteristik ruang udara Papua untuk meningkatkan keselamatan penerbangan di wilayah tersebut. Berbagai tantangan yang dihadapi dalam operasional penerbangan, mulai dari perubahan cuaca, kondisi geografis, jarak pandang, hingga karakteristik medan pegunungan, menjadi bagian yang dibahas bersama para pemangku kepentingan penerbangan.

Upaya tersebut dilakukan melalui Papua Aviation Stakeholder Forum 2026 bertajuk “Safer Skies Through Collaboration” yang diselenggarakan di Timika, Papua, Sabtu (5/9/2026). Melalui forum ini, AirNav Indonesia mempertemukan regulator, penyedia jasa navigasi penerbangan, pengelola bandar udara, TNI Angkatan Udara, hingga pilot untuk membahas tantangan operasional sekaligus mencari solusi yang dapat diterapkan di langit Bumi Cendrawasih.
Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno mengatakan, pemahaman terhadap karakteristik ruang udara Papua perlu terus dikembangkan seiring dengan dinamika operasional penerbangan di wilayah tersebut. ”Melalui forum ini, kami berharap ada inovasi-inovasi yang dapat ditemukan dan diimplementasikan agar kita dapat terus mengupayakan peningkatan keselamatan penebangan di ruang udara Papua,” ujarya.
Menurutnya, karakteristik alam Papua menghadirkan kondisi yang membutuhkan kewaspadaan tinggi dari seluruh personel penerbangan. Perubahan cuaca yang cepat, jarak pandang, temperatur udara, serta jajaran pegunungan dapat memengaruhi kondisi penerbangan dan persepsi visual pilot. “Contohnya cuaca, jarak pandang, temperatur udara, hingga jajaran pegunungan yang kadang memicu fatamorgana. Pilot melihatnya seperti medan datar, padahal pegunungan,” ungkap Avirianto.
Karena itu, dia menilai kesamaan persepsi dan komunikasi antara pilot dan pemandu lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan penerbangan. Menurut Avirianto, setiap pihak memiliki perspektif dan tanggung jawab yang berbeda dalam operasional penerbangan. Pertukaran informasi secara langsung diperlukan agar masing-masing pihak dapat memahami kondisi dan tantangan yang dihadapi pihak lainnya.
”Yang kita butuhkan adalah bagaimana setiap pihak memahami tantangan pihak lainnya. Pilot harus memahami kondisi yang dihadapi ATC, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu, kita bisa mengambil keputusan yang lebih baik untuk keselamatan,” ujar Avirianto.
Mencari Solusi dari Persoalan di Lapangan
Selain kondisi geografis dan cuaca, forum juga membahas pentingnya kepatuhan terhadap berbagai ketentuan teknis penerbangan. Salah satunya terkait kesesuaian muatan kargo dengan dokumen resmi. Avirianto menilai aspek yang terlihat sederhana tersebut tetap memiliki konsekuensi terhadap keselamatan penerbangan sehingga perlu menjadi perhatian seluruh pihak.
“Hal-hal seperti ini harus kita disiplinkan bersama. Keselamatan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh ekosistem penerbangan,” katanya.
Ia berharap diskusi dalam forum tersebut menghasilkan masukan dan solusi yang dapat segera ditindaklanjuti dalam operasional penerbangan. “Jangan sampai forum ini hanya menjadi tempat berdiskusi. Apa yang kita temukan dan sepakati harus bisa kita tindak lanjuti,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah X Merauke, Rasburhany U, mengapresiasi penyelenggaraan forum yang mempertemukan berbagai unsur penerbangan tersebut. Menurutnya, karakteristik geografis Papua dan perubahan cuaca yang cepat membuat pembaruan informasi serta koordinasi antarpemangku kepentingan menjadi penting.
”Melihat kondisi geografis dan cuaca Papua yang cepat berubah, kegiatan ini menjadi wadah penting untuk memperbarui informasi dan mencari solusi atas permasalahan yang timbul. Kami berkomitmen berkolaborasi demi menjamin keselamatan penerbangan di Papua,” ungkap Rasburhany.
Ia mengatakan keselamatan penerbangan membutuhkan sinergi antara regulator, penyedia jasa navigasi penerbangan, operator bandar udara, maskapai, pilot, dan unsur terkait lainnya. ”Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan bisa saling berdiskusi dan memberikan masukan demi menjamin keamanan serta keselamatan penerbangan, khususnya di wilayah Papua,” tuturnya.
Selain Direktur Utama AirNav Indonesia, Papua Aviation Stakeholder Forum 2026 menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai unsur penerbangan, Kepala Otban Wilayah X Merauke Rasburhany U, Komandan Lanud Yohanis Kapiyau Kolonel Pnb Taufik Andriadi, perwakilan IPI/Pilot Tariku Capt. Yoseph Hugo S.K. Mirino, serta Kepala UPBU Timika Muchammad Nafiek.
Melalui forum tersebut, AirNav Indonesia terus mendorong pemahaman bersama terhadap karakteristik ruang udara Papua serta memperkuat koordinasi antar-pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan penerbangan di wilayah tersebut. (***)
EVP of Corporate Secretary
HERMANA SOEGIJANTORO
Telepon : 021 – 5591 5000, Ext. 1130
Fax : 021 – 2917 0370
TENTANG AIRNAV INDONESIA
Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia (AirNav) merupakan lembaga dengan kepemilikan modal negara di bawah Kementerian Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia (KBUMN RI) yang didirikan tanggal 13 September 2012 berdasarkan amanat UU Nomor 1 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 tahun 2012 tentang Perum LPPNPI. Sebagai satu-satunya penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di Indonesia, AirNav bertugas untuk memastikan keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional penerbangan di ruang udara Indonesia dan sejumlah ruang udara negara lain yang berbatasan dengan wilayah udara Indonesia.
Secara umum, AirNav mengelola ruang udara seluas 7.789.268 km2. Luasan tersebut dibagi menjadi 2 Flight Information Region (FIR) yang masing-masing dikelola oleh pusat pelayanan lalu lintas udara di Jakarta dan Makassar. Di ruang udara seluas itu, berdasarkan data tahun 2019 (sebelum pandemi COVID-19), AirNav melayani rata-rata 6,125 pergerakan pesawat udara per harinya, baik yang sifatnya take-off/ landing, maupun penerbangan lintas (overflying) antarnegara.
Informasi dan data yang disajikan di situs web ini disediakan semata-mata untuk tujuan informasi umum. AirNav Indonesia berupaya menyajikan data secara akurat dan terkini, namun tidak memberikan jaminan atas kelengkapan, keakuratan, atau ketepatan waktu dari informasi yang ditampilkan. Data yang tersedia di situs ini tidak dapat dijadikan dasar perhitungan






Palu
Luwuk
Gunung Sitoli
Pangkal Pinang
Jambi
Banyuwangi
Malang
Sumenep
Labuan Bajo
Samarinda
Berau
Biak
Oksibil
Timika
Ketapang
Bengkulu
Solo
Rengat
Padang
Curug
Cirebon
Pangkalan Bun
Sampit
Malinau
Ternate
Gorontalo
Bima
Sumbawa
Ende
Tual, Karel Sadsuitubun
Manokwari
Tanah Merah
Batam
Natuna
Medan
Palembang
Yogyakarta
Surabaya
Denpasar
Balikpapan
Sentani
Pontianak
Banda Aceh
Pekanbaru
Tanjung Pinang
Halim
Bandung
Semarang
Banjarmasin
Palangkaraya
Tarakan
Manado
Kendari
Lombok
Kupang
Ambon
Wamena
Nabire
Sorong
Merauke
Pusat Informasi Aeronautika



