Articles

Safety-I VS Safety-II, apa bedanya?

11 Jan, 2018

Sahabat ISAFE, selama ini kita mendifinisikan safety sebagai suatu kondisi dimana tidak terjadi masalah keselamatan (safety as the freedom from unacceptable risk). Memang, secara umum sulit untuk memastikan bahwa sama sekali tidak terjadi masalah safety untuk aktifitas besar seperti pelayanan navigasi penerbangan di 2 FIR Indonesia, namun paling tidak kita dapat membatasinya permasalahan pada masalah keselamatan yang kecil-kecil saja, yaitu masalah yang masih dapat ditolerir, dimana tidak ada masalah safety yang berarti.

Kata kunci definisi safety ini terfokus pada permasalahan safety itu sendiri, dimana ia didefinisikan justru menggunakan lawan katanya, yaitu tidak terwujudnya aspek safety. Karena itulah maka sampai saat ini pengukuran atas kinerja safety diarahkan pada konsekwensi yang timbul atas tidak terwujudnya aspek safety dimaksud. Sebutannya dapat beragam, mulai dari risiko, hazard, near miss, insiden, sampai pada kecelakaan. Lalu apakah cara berfikir seperti ini salah? Hmm.. mari kita bahas hal ini lebih mendalam.

Ternyata, persoalan safety menggunakan ukuran “jumlah masalah safety” sudah terjadi sangat lama. Pada tahun 1444 terjadi musibah besar, dimana para hadirin yang sedang menyaksikan pernikahan Marquess of Ferrara memenuhi jembatan Rialto Bridge di Venice, jembatan tsb kemudian runtuh karena terlalu keberatan muatan. Kejadian ini menimbulkan safety concern yang klasik terhadap teknologi jembatan. Safety concern selanjutnya di masa revolusi industri, banyak musibah kecelakaan dikarenakan oleh malfungsi pada peralatan, mesin dan teknologi lain yang pakai saat itu. Kejadian kecelakaan pembangkit tenaga nuklir Three Mile Island, meledaknya pesawat Challenger dan musibah Chernobyl, semua menggiring fokus perhatian pada komponen human factor, organizational failure dan safety culture sebagai kontributor dan potential risk.

Dalam memaknai safety, kita memang condong lebih memperhatikan aspek kegagalan (baca: masalah safety) ketimbang kesuksesan terpenuhinya tujuan aspek safety. Kecenderungan memperhatikan “what goes wrong” ini bertambah besar karena dorongan yang diamanahkan regulator dan pihak berwenang, termasuk para ahli, konsultan dan perusahaan yang tak terhingga banyaknya. Mereka terus menyuarakan untuk menaruh perhatian khusus pada “makhluk” yang bernama risks, failures, dan accidents.

Pola memandang aspek safety dengan kemasan ini disebut “Safety-I”, yaitu suatu kondisi dimana jumlah permasalahan spt near miss, insiden dan accident harus terjaga dan tetap berada pada angka yang serendah mungkin. Safety-I mempunyai ciri yaitu berfokus pada masalah atau “failures”, dan selanjutnya melacak “what went wrong”. Semua itu ditangani dengan pendekatan “find and fix” (temukan dan perbaiki). Pada perspektif Safety-I, tujuan safety management adalah untuk memastikan jumlah kejadian yang tidak diinginkan dapat dikendalikan serendah mungkin. Ungkapan lazim dari konsep Safety-I ini adalah: “Looking at what goes wrong

Bagaimana dengan Safety-II?

Dalam keseharian para profesional dibidang medis, teknik sipil, tambang, dan juga penerbangan serta industri lainnya, ketika mereka semua melaksanakan aktifitasnya dengan baik dan berjalan aman maka pada prinsipnya hal ini terjadi karena mereka dapat secara baik menyeimbangkan aksinya sehingga seirama dengan dinamika kondisi lingkungan kerjanya. Bahkan, dengan rangkaian ketidak pastian,  kesulitan dan komplesitas yang tinggi yang mereka hadapi kita akan terkesima menyaksikan bahwa sangat jarang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (things go wrong), justru kebanyakannya adalah semua berjalan baik (things go right). Inilah wilayah perhatian Safety-II.

Focus Safety-II adalah pada upaya menjamin agar semua proses berjalan baik atau “ensuring that things go right”. Safety-II membangun kemampuan untuk tetap mencapai tujuan meskipun berada pada kondisi sistem yang rumit dan beragam, sering terjadi perobahan, dan bahkan tidak beraturan. Prinsip safety management secara terus menerus diarahkan pada antisipasi perkembangan lapangan dan segala bentuk potensi kejadian. Demikian juga, tujuan investigasi menjadi berubah yaitu pada pemahaman tentang bagaimana segala sesuatunya berjalan baik, yang nantinya dipakai sebagai basis untuk menjelaskan mengapa sistem sesekali berjalan tidak mulus.

Menurut Safety-II, Segala sesuatu berjalan baik dikarenakan adanya upaya-upaya di lapangan dalam rangka merespon berbagai kondisi yang terjadi pada sistem. Dengan demikian komponen manusia dalam hal ini justru dipandang sebagai sumber daya yang diandalkan untuk mengawal agar keadaan sistem tetap berjalan mulus, memiliki fleksibilitas dan ketahanan yang baik.

Konsep Safety-II yang digagas Prof. Erik Hollnagel dari Univ of Southern Denmark yang ditulis dalam jurnal berjudul A Tale of Two Safeties, tahun 2012 masih terus mendapat tanggapan dari banyak pihak dengan beragaram komentar. Ungkapan beliau tentang hal ini mungkin cukup mewakili kesimpulan atas apa yang dapat diharapkan kedepan, yaitu: “Since the socio-technical systems on which our existence depends continue to become more and more complicated, it seems clear that staying with a Safety-I approach will be inadequate in the long; that may by now even be the case also in the short run. Yet the way ahead lies not in a replacement of safetyI-by Safety-II, but rather in a combination of the two ways of thingking.” 

Berkenaan dengan penanganan aspek safety, menanggapi konsep Safety-II Eurocontrol menanggapi secara positif, yaitu: “In light of increasing demands and system complexity, we must adapt our approach to safety. While many adverse events may still be treated by a Safety-I-based approach without serious consequences, there is a growing number of cases where this approach does not work, leaving us unaware of how everyday actions achieve safety.”

Sebagai langkah awal bagi kita Airnav Indonesia, yuk kita lihat pesan kunci yang disampaikan oleh penggagas konsep Safety-II, yaitu: “Look at what goes right as well as what goes wrong, and learn from what works as well as from what fails.”

Ingin mengetahui lebih jauh tentang hal ini, silahkan ikuti link berikut: http://www.eurocontrol.int/news/safety-focus-what-goes-right

 

Salam ISAFE!

comments powered by Disqus

Articles

Pengumuman Penetapan Hasil Rekrutmen Internal Perum LPPNPI Tahun 2018
07 Jun 2018

Pengumuman Penetapan Hasil Rekrutmen Internal Peru...

Pengumuman Penetapan Hasil Rekrutmen Internal Perum LPPNPI Tahun 2018
Read More

Menteri BUMN Mengangkat Dewan Pengawas dan  Direksi Baru AirNav
31 May 2018

Menteri BUMN Mengangkat Dewan Pengawas dan Direks...

Jakarta – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan pergantian jajaran Dewan Pengawas dan jajaran Direktur
Read More

Pengumuman Peserta Lulus Seleksi Kompetensi Rekrutmen PKWT Programmer Perum LPPNPI
31 May 2018

Pengumuman Peserta Lulus Seleksi Kompetensi Rekrut...

Pengumuman Peserta Lulus Seleksi Kompetensi Rekrutmen PKWT Programmer Perum LPPNPI
Read More

Rekrutmen Tenaga Basic AFIS dan Basic Teknik Perum LPPNPI Bagi Putra dan Putri Daerah Papua dan Papua Barat Tahun 2018
28 May 2018

Rekrutmen Tenaga Basic AFIS dan Basic Teknik Perum...

Rekrutmen Tenaga Basic AFIS dan Basic Teknik Perum LPPNPI Bagi Putra dan Putri Daerah Papua dan Papua Barat Tahun 2018
Read More

News

Optimalisasi Ruang Udara, AirNav Indonesia dan Kementerian Perhubungan Selenggarakan CMAC/FUA Workshop
31 Mar 2016

Optimalisasi Ruang Udara, AirNav Indonesia dan Kem...

Jakarta, 31 Maret 2016 – Kerjasama sipil-milter merupakan hal penting untuk mengoptimalkan penggunaan ruang udara Republik Indonesia dalam mendukung peningkatan konektivitas di negeri yang memiliki lebih dari 17.000 pulau ini.
Read More

Donor Darah Dan Peluncuran Mobil Perpustakaan Keliling Airnav Peduli
11 Feb 2016

Donor Darah Dan Peluncuran Mobil Perpustakaan Keli...

TANGERANG (2/10) - Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia menggelar Aksi Donor Darah dan Peluncuran Mobil Perpustakaan Keliling ”AirNav Peduli”, Rabu, 10 Februari 2016
Read More

AirNav Indonesia Bersama TNI AU Resmikan Tower Baru  di Bandara Husein Sastranegara
10 Feb 2016

AirNav Indonesia Bersama TNI AU Resmikan Tower Bar...

BANDUNG - Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Pen-erbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia bersinergi dengan TNI Angkatan Udara meresmikan pengoperasian tower baru, demi memaksimalkan pelayanan pengaturan lalu lintas penerbangan berniaga dan penerbangan militer di Bandara Husein Sastrangera, Bandung pada hari Rabu 10 Februari 2016
Read More

9 Pejabat MATSC Menandatangani Pakta Integritas, Siap Meningkatkan Pelayanan Navigasi di Indonesia
26 Feb 2016

9 Pejabat MATSC Menandatangani Pakta Integritas, S...

Makassar – Sebanyak 9 Manager dan Junior Manager di AirNav Indonesia Cabang MATSC menandatangani pakta integritas. Penandatanganan para managerial dilakukan di ruangan Platinum, Kantor Cabang MATSC, Jl. Bandara Baru, Selasa (16/2)
Read More